Senin, 19 Agustus 2013

Panorama Ujungnegoro



       
Desa Ujungnegoro, kecamatan Tulis kabupaten Batang
         Pada tau nggak kalau di salah satu area rencana pembangunan PLTU terbesar Se- Asia Tenggara ini punya pantai? Pantai ini terletak di desa Ujungnegoro, kecamatan Tulis kabupaten Batang. Yak, pantai ini menjadi daerah tujuan wisata dan jadi KKLD (kawasan konservasi daerah laut).  Dari hasil keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan menetapkan sebagian wilayah pesisir Kabupaten Batang, Jawa Tengah ini sebagai Kawasan konservasi pesisir dan pulau – pulau kecil Ujungnegoro – Roban kabupaten Batang, Jawa Tengah dan ditetapkan sebagai taman pesisir Ujungnegoro – Roban kabupaten Batang, Jawa Tengah, dengan luas keseluruhan 4.015,2 Ha dengan luas wilayah perairan 3.480,8 Ha yang ditetapkan di Jakarta, 14 Juni 2012
      Untuk menjaga KKLD yang ada di laut Ujungnegoro ini, Bupati kabupaten Batang ditunjuk untuk melakukan pengelolaan taman pesisir Ujungnegoro – Roban kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Selain menjadi KKLD, Ujungnegoro juga menyuguhkan keindahan yang pasti buat kita yang kesana kecanduan buat datang lagi dan lagi. Adanya perpaduan antara bebatuan dan pantai menjadi daya tarik yang indah dan elok karena jarang sekali dijumpai pantai seperti ini di Indonesia. Keindahan yang tetep dijaga oleh warganya dan wahana permainan yang juga disuguhkan untuk para wisatawan yang datang juga menjadi nilai tambah yang bisa dinikmati.
      Dari keterangan salah satu warga, apabila pembangunan ini diteruskan kemungkinan bisa merusak KKLD, karena pembangunan yang dilakukan bisa menyangkut bahkan menganggu kehidupan dan perkembangan biota laut. Di wilayah ini juga ada karang preketek lho, dan karang ini juga termasuk dalam konservasi yang masih aktif keberadaannya. Nah, menurut Sekda Batang karang ini udah nggak aktif dan tidak layak dipertahankan dengan dalih ada lumpur yang nutupin karang itu guys. Tapi,  dari hasil analisis yang dilakuin sama para pecinta alam salah satu kampus di Bandung yang emang nyelem langsung tidak menemukan keadaan yang pernah dituturkan sama Sekda Batang. Nah, gimana tuh? 


Oleh: Febrina Rani 
          https://twitter.com/febrinarti







Sabtu, 17 Agustus 2013

Secuil Harapan Seorang Ibu Untuk Anaknya

Perjuangan Para Ibu Untuk Anak Cucu Mereka


       Seorang ibu adalah manusia yang terkadang menyimpan rasa khawatir yang berlebih, iya nggak? apalagi kalau nyangkut masalah masa depan anak – anaknya. Nah, itu pula yang sekarang dirasain sama ibu – ibu di Batang.
     Batang mengalami suasana genting selama beberapa tahun terakhir. Suasana ini nggak terlepas dari rencana pembangunan PLTU terbesar se-Asia Tenggara di Batang. Udah barang tentu seluruh masyarakat Batang menyimpan rasa khawatir tentang bagaimana masa depan mereka. Tapi, tentulah para ibu yang biasa memiliki kadar kekhawatiran paling tinggi. Kenapa gitu? Pernah nggak kita berpikir sejenak kalau seorang ibu harus memikirkan dengan apa beliau akan menghidupi anak – anaknya setelah ‘ladang uang’ mereka diganti dengan ‘ladang besi’, beliau juga memikirkan mau kayak gimana kehidupan anak – anaknya nanti. Yaps, Apakah hidup yang dihantui sama penyakit akibat dari energi terkotor di dunia? Atau  hidup yang terlunta – lunta karena nggak ada lagi sawah dan laut buat cari nafkah? Entah, seberat apapun pemikiran ibu yang jelas beliau memikul beban berat.
     Salah seorang ibu di Batang pernah meneteskan air mata saat bercerita tentang dirinya yang hampir aja dikriminalisasi karena penolakannya terhadap PLTU yang akan dibangun, bukan beliau takut dipenjara, sama sekali bukan. Beliau hanya takut jika beliau tak berada dirumah, siapa yang ngurus anak – anak beliau? Siapa yang menghidangkan makanan di atas meja? Bayangin aja beliau nggak mampu. Kisah lain pernah terdengar dari seorang ibu yang menangis tersedu karena beliau takut, ketakutan muncul tak lain karena anak cucunya akan jadi pengemis jika PLTU benar – benar dibangun di desa mereka. Beliau paham anak cucunya nggak punya keahlian lain selain bertani dan melaut, juga nggak punya cukup pendidikan buat ngelamar pekerjaan lain. Baru rencana aja udah makan ratusan korban bahkan ribuan korban perasaan, terutama perasaan para ibu di Batang. Bayangin gimana kalau PLTU bener – bener dibangun? Perjuangan nggak pernah berhenti sedetikpun. Perjuangan buat masa depan nggak akan pernah mati. Semakin PLTU maju, semakin barisan ibu – ibu merapat buat terjun langsung menghadang ‘ladang besi’. Para ibu yakin, PLTU nggak akan pernah dibangun di tanah mereka, tanah kita, bumi tempat kita tinggal.


Oleh: Novita
          https://twitter.com/hanyaopi

Minggu, 21 Juli 2013

Keuntungan PLTU Buat Siapa?


Keuntungan Untuk 'mereka'


      Serius untuk  warga Indonesia? Pemerataan listrik? 33% rumah tangga Indonesia itu belum teraliri listrik dan 80-90% dari yang belum teraliri listrik ini berada di luar Jawa! Nah, Lalu mengapa PLTU terbesar se-Asia Tenggara berkekuatan 2x1.000 MW malah dibangun di Jawa? Yak, muncul tanda tanya, Terus untuk apa lagi? Mengentaskan Batang dari kemiskinan? Eh! Emang kalau PLTU berdiri yang jadi kaya siapa? Mungkin perputaran uang di Batang ini jadi lebih baik, tapi siapa yang pegang uang-uang itu? Bukan...bukan warga. 

       PLTU Batang ini hanya membutuhkan teknisi-teknisi yang tentunya memiliki tingkat pendidikan tertentu atau ahli di bidang tertentu, bukan nelayan yang selalu memanen ikan dari alam yang kaya setiap harinya apa lagi dari petani – petani yang sawahnya subur sampai panen 3 kali dalam setahun. Bukan mereka. Nah, terus siapa yang untung di pembangunan PLTU ini selain pemilik tambang batu bara? Jepang! Kok bisa? Bisa dong.. 

    Saking menguntungkannya, pembangunan PLTU di Batang ini bagi Jepang, sampai-sampai beberpa hari yang lalu Deputi Menteri Ekonomi Jepang, Yasutoshi Nishimura berkunjung ke Jakarta untuk berkeluhkesah tentang kekhawatirannya perihal masalah pembebasan lahan yang tidak kunjung selesai pada Hatta Rajasa selaku Menteri Perekonimian. Kecurangan yang mulai tercium. Jadi sebenarnya, Jepang itu sudah tidak mau menggunakan batubara lagi sebagai sumber energi. Lah? Malah mau bikin PLTU disindang? Yak, untuk yang belum tahu, yang memenangkan tender pembangunan PLTU di Batang ini adalah J-Power yang berkonsorsium dengan Itochu (Jepang) dan Adaro (Indonesia). Lucu emang, ketika mereka sendiri berkomitmen untuk nggak menggunakan batu bara lagi karena mereka sadar betapa tak terelakkan dan bahayanya batu bara ini, mereka malah membangun PLTU berbahan bakar batubara di Indonesia.

      Tentu kita bisa lebih pintar kan? Memang, pasca terjadi gempa yang merusak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Jepang, Jepang mengalami kerugian hebat, dan alhasil mereka mulai menggunakan batubara lagi, karena keuangan yang belum pulih itu. Nah, salah satu cara mereka biar pulih ya membangun PLTU di Batang itu. Dan bukan tidak mungkin, setelah keuangan mereka pulih, mereka akan berhenti kembali menggunakan batubara, memulai menggunakan energi terbarukan ramah lingkungan dengan resiko minim bahkan nol, sedang Indonesia saat itu sudah dalam perjalanan dan menemui kehancuran yang pasti akibat batubara. 

Sekali lagi, kita tidak bisa lebih pintar kan?



Oleh: Sabrina Aulia Nisa
          https://twitter.com/Uliibaiik